Muamalat.co.id – JAKARTA. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mencetak kinerja positif pada tahun 2025. Namun risiko kenaikan harga bahan baku membayangi kinerja ICBP ke depan.
Putu Chantika Putri, Analis Ciptadana Sekuritas Asia mencatat margin kotor ICBP turun 180bps secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi 35,2% pada 2025, didorong oleh kenaikan biaya minyak goreng dan kentang, dengan hanya sebagian diimbangi oleh kenaikan harga jual rata – rata (ASP) pada awal kuartal I – 2025.
“Kami memperkirakan tekanan biaya akan berlanjut hingga awal 2026, karena harga minyak yang tinggi terus mendorong harga komoditas yang lemah menjadi lebih tinggi,” ujar Putu dalam risetnya pada 13 April 2026.
Paparan bahan baku tetap terkonsentrasi pada gandum dan minyak goreng (sekitar 30% dari penjualan) bersama dengan gula dan produk susu. Biaya pengemasan juga sedikit meningkat tetapi tetap menjadi komponen satu digit rendah dari cost of goods sold (COGS).
Kinerja Tergolong Solid, Tapi Kenapa Saham BBCA Masih Terus Tertekan?
Putu melihat ruang terbatas untuk peningkatan ASP lebih lanjut dalam jangka pendek, mengingat permintaan domestik yang masih lemah, ketegangan yang berkelanjutan di Timur Tengah, dan kondisi makro yang rapuh di seluruh pasar Afrika. Tanpa penyesuaian harga baru-baru ini, penerusan harga tampaknya terbatas, sehingga margin lebih rentan terhadap volatilitas input.
“Meskipun penyangga persediaan 3 bulan – 6 bulan menawarkan bantalan, menurut pandangan kami, hal itu hanya memberikan penyeimbang sebagian jika biaya yang tinggi terus berlanjut,” terang Putu.
Manajemen sendiri memperkirakan pertumbuhan penjualan ICBP sekitar 5% – 7% dan margin EBIT 20% – 22%, menunjukkan pemulihan momentum pertumbuhan dari tahun fiskal 2025. Yang penting, operasional bisnis ICBP di luar negeri yakni di Pinehill saat ini tetap stabil meskipun ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut.
Putu menilai di Pinehill, tren volume terus sehat, sementara tekanan ASP mencerminkan pergeseran ke arah stock keeping unit (SKU) dengan harga lebih rendah di pasar Afrika untuk memperluas jangkauan konsumen.
Lebih lanjut Putu bilang, hal tersebut sebagai hal yang konstruktif untuk penetrasi, meskipun hal ini dapat mengurangi pertumbuhan pendapatan jangka pendek.
Adapun, di dalam negeri, permintaan tetap stabil tanpa tanda-tanda penurunan yang jelas, sementara program makan bergizi gratis telah memberikan peningkatan tambahan pada konsumsi produk susu.
Kinerja Pakuwon Jati (PWON) Masih Ditopang Aset Recurring, Simak Rekomendasi Sahamnya
Permada Darmono, Analis UBS Sekuritas Indonesia melihat gangguan berkepanjangan di Timur Tengah akan menimbulkan risiko tambahan terhadap biaya input dan logistik, yang pada akhirnya dapat memerlukan penyesuaian harga atau margin.
Meskipun ICBP telah menunjukkan kekuatan penetapan harga yang kuat secara historis (terutama pada tahun 2022), Permada memperkirakan manajemen akan menunda kenaikan harga kecuali inflasi biaya terbukti berkelanjutan, dengan titik peninjauan penting berikutnya kemungkinan sekitar pertengahan tahun seiring dengan berkurangnya cadangan persediaan.
Menurut Permada, permintaan domestik telah membaik dari titik terendah pada kuartal II – 2025 hingga akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026. Namun Ia menilai lingkungan konsumen masih sensitive. Oleh karena itu, mungkin ada ruang terbatas untuk menaikkan harga secara agresif tanpa mempertaruhkan volume.
Demikian pula untuk pasar Pinehill, Permada menilai kenaikan harga tidak mungkin terjadi. Mengingat perusahaan baru-baru ini meluncurkan produk dengan harga lebih rendah (kemasan 10 sen AS) ke pasar Afrika Utara untuk mengatasi masalah penurunan daya beli konsumen, dan menarik konsumen kelas bawah.
Andrianto Saputra, Analis Indo Premier Sekuritas mengatakan potensi pemulihan margin dapat terjadi jika harga crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit dan gandum melandai.
Namun sentimen nilai tukar juga perlu dicermati. Sebab ICBP mencatat kerugian valuta asing sebesar Rp 278 miliar pada kuartal IV – 2025 karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
ICBP Chart by TradingView
“Risiko ICBP meliputi pertumbuhan pendapatan yang lebih lambat dan biaya bahan baku yang lebih tinggi,” ucap Andrianto saat dikonfirmasi Kontan, Senin (20/4/2026).
Putu memproyeksikan, pendapatan dan laba bersih ICBP tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 78,86 triliun dan Rp 10,22 triliun. Adapun pada tahun 2025, ICBP mengantongi pendapatan Rp 74,85 triliun dan laba bersih Rp 9,22 triliun.
Andrianto dan Permada merekomendasikan beli saham ICBP dengan target harga masing – masing Rp 12.600 per saham dan Rp 10.500 per saham. Sementara Putu merekomendasikan Hold saham ICBP dengan target harga Rp 8.100 per saham.