Biang kerok saham konglomerat BREN, RATU cs masuk top laggards 2026

Muamalat.co.id , JAKARTA – Sejumlah saham terafiliasi konglomerat Tanah Air tercatat masuk dalam jajaran top laggards IHSG sepanjang 2026. Saham konglomerat yang biasanya berada pada jajaran teratas penopang IHSG, kini loyo dan justru memberikan beban terhadap indeks.

Berdasarkan data Bloomberg pada penutupan perdagangan Selasa (13/1/2026), jajaran top laggards dipenuhi oleh saham-saham terafiliasi konglomerat Prajogo Pangestu, Aguan, atau Happy Hapsoro.

Saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) memimpin daftar ini dengan membebani IHSG sebesar 8,90%. Mengekor di belakangnya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) turut membebani IHSG sebesar 5,99% atau PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menahan laju IHSG sebesar 3,74%.

: Arah IHSG Usai Tergelincir Imbas Jebloknya Saham Konglomerat BREN, BUMI, hingga PANI

Beberapa saham Prajogo lainnya yang masuk dalam daftar ini adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA).

Selain Prajogo Pangestu, saham milik Aguan juga tercatat dalam daftar ini dengan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) memberikan beban masing-masing sebesar 0,83% dan 0,59% terhadap IHSG. Saham Happy Hapsoro PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) juga turut menjadi pemberat IHSG sebesar 0,69%.

: : Daftar Konglomerat RI Pemilik Bank dan Nilai Kekayaan 2026, Duo Hartono Kembali Pimpin

Analis dan VP Head of Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menilai, pelemahan yang terjadi terhadap saham-saham konglomerat dilatarbelakangi beberapa faktor, seperti valuasi yang premium hingga aksi profit taking investor.

Menurutnya, kenaikan harga yang signifikan yang dialami oleh emiten-emiten konglomerat belakangan, telah mendorong realisasi pasar terhadap valuasi emiten sehingga terjadi rotasi sektoral.

: : IHSG Sesi I Hari Ini (12/1) Menguat 0,13%, Saham Konglomerat Beterbangan

“Kami melihat investor lebih menerapkan strategi taktikal dengan melihat momentum respons yang mempengaruhi core pendapatan, seperti emiten yang berkaitan dengan emas, aksi korporasi, hingga dampak kebijakan,” katanya, Selasa (13/1/2026).

Selain itu, aksi profit taking juga dinilai menjadi salah satu latar belakang hilangnya tenaga emiten konglomerat. Terlebih, di tengah kondisi pasar yang belum banyak dibeli oleh asing lantaran ketegangan geopolitik yang kian memanas.

Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, rotasi investor untuk membeli saham-saham berbasis energi menjadi salah satu jawaban dari terkoreksinya saham-saham konglomerat yang tergabung dalam berbagai sektor itu.

“Memang rotasi sektor berlaku ya. Bisa jadi investor lagi benar-benar fokus untuk saham berbasis basic maupun energy sehubungan tensi geopolitik yang semakin memanas di berbagai kawasan,” katanya, Selasa (13/1/2026).

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Leave a Comment