Muamalat.co.id JAKARTA. Euforia lonjakan harga komoditas tampaknya tidak berlaku bagi nikel. Harga komoditas ini cenderung melemah sejak awal Maret 2026 dan bisa mempengaruhi prospek kinerja emiten di sektor tersebut.
Mengutip Trading Economics, harga nikel merosot 2,90% dalam sepekan terakhir ke level US$ 17.227,88 per ton pada Jumat (6/3/2026).
Bersamaan dengan itu, sejumlah saham emiten nikel mengalami penurunan harga. Contohnya saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang harganya ambles 21,52% dalam sepekan terakhir ke level Rp 6.200 per saham hingga akhir perdagangan Jumat (6/3/2026).
Ketidakpastian Geopolitik Bikin Investor Alihkan Dana THR ke Instrumen Aman
Selain itu, ada saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang menyusut 16,37% dalam sepekan terakhir ke level Rp 715 per saham. Harga saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga melemah 11,69% dalam sepekan terakhir ke level Rp 1.360 per saham.
Begitu juga dengan saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) yang terkoreksi 11,83% dalam sepekan terakhir ke level Rp 745 per saham serta saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) yang melorot 9,55% dalam sepekan terakhir ke level Rp 995 per saham.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, akhir-akhir ini fokus investor beralih ke aset safe haven dan energi seperti emas dan migas lantaran memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Mereka pun meninggalkan sektor logam dasar seperti nikel yang relatif sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Wajar apabila akhirnya harga nikel cenderung lesu dan turut berdampak pada koreksi harga saham-saham di sektor terkait industri tersebut.
Di sisi lain, keterbatasan pasokan bijih nikel lokal akibat lambatnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) belum mampu mendorong harga komoditas tersebut. “Sebab, masih ada kondisi oversupply struktural nikel global dan perlambatan adopsi kendaraan listrik,” kata dia, Jumat (6/3/2026).
Wafi menambahkan, potensi tertahannya kinerja emiten nikel dalam jangka pendek cukup terbuka, mengingat pergerakan harga nikel kemungkinan tidak jauh dari kisaran US$ 16.000-US$ 18.500 per ton.
Faktor yang bisa mendorong peningkatan kinerja emiten nikel berasal dari potensi pelonggaran suku bunga acuan global dan stimulus pemulihan sektor properti di China yang dapat memicu permintaan stainless steel.
Gejolak Timur Tengah Hingga Depresiasi Rupiah Menekan IHSG Pada Pekan Ini
Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe menilai, sektor nikel sedang berada dalam fase wait and see. Ini mengingat, para pelaku pasar masih menanti dampak nyata kebijakan pemangkasan produksi nikel nasional terhadap harga komoditas tersebut. Ditambah lagi, pasar juga sedikit khawatir dengan isu beberapa smelter di Indonesia yang kesulitan memperoleh pasokan bijih nikel lokal seiring dibatasinya produksi.
“Investor perlu kepastian seperti apa situasi dan kondisi pasar nikel setelah diberlakukannya kebijakan pengurangan produksi,” kata dia, Jumat (6/3/2026).
Dari sekian emiten nikel, Kiswoyo menjagokan INCO dapat mencetak kinerja yang lebih unggul di sektornya pada tahun 2026. Hal ini didukung oleh posisi INCO yang memiliki pertambangan nikel terintegrasi dan sedang aktif membangun tiga smelter High Pressure Acid Lead (HPAL).
Di lain pihak, Wafi menyebut emiten nikel yang terintegrasi penuh dari hulu hingga hilir, memiliki cash cost rendah, dan fokus pada nikel kelas 1 seperi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) berpeluang mencetak kinerja cemerlang pada tahun ini. Di samping itu, ketersediaan sumber energi murah juga menjadi keunggulan kompetitif bagi emiten nikel untuk mempertahankan margin.
Lantas, Wafi menyebut saham INCO, NCKL, dan MBMA layak dipertimbangkan investor dengan target harga masing-masing di level Rp 8.500 per saham, Rp 2.000 per saham, dan Rp 700 per saham.