Saham valuasi murah jadi incaran, intip pilihan saham dari IDX Value30

Muamalat.co.id JAKARTA. Saham valuasi murah dengan likuiditas mulai menjadi incaran para investor dan mulai meninggalkan saham konglomerasi. Ini tercermin dari pergerakan indeks IDX Value30 yang unggul dibanding Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Pada perdagangan Selasa (13/1), beberapa saham konglomerat terpantau terjun ke zona merah. Misalnya, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang ditutup melemah 0,07% ke level Rp 218.375 per saham. 

Kemudian saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang ambles 6,88% ke posisi Rp 406. Masih di Grup Bakrie, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga ikut tersungkur 5,16% ke Rp 1.195. 

Pasalnya, saham-saham para konglomerat dengan market cap jumbo ini meningkatkan volatilitas IHSG. Pada intraday perdagangan Selasa (13/1), IHSG sempat terjun ke zona merah ke level 8.841,01. 

BEI Suspensi Saham PADI, RMKE, PPGL, LMAX, Begini Rekomendasinya

Namun IHSG berhasil rebound ke zona hijau sampai menutup perdagangan Selasa (13/1) dengan menguat 0,72% ke posisi 8.948,30. Sepanjang tahun berjalan IHSG sudah naik 3,49%. 

Sementara, indeks kumpulan saham dengan valuasi rendah dengan likuiditas dan fundamental apik yakni IDX Value30 sudah melonjak 5,44% sepanjang 2026 berjalan. Ini lebih tinggi dibanding IHSG. 

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai sejauh ini kalau diperhatikan rotasi saham masih akan terus terjadi antara konglomerasi dengan saham undervalued. 

“Potensi kenaikkan konglomerasi masih akan tetap terbuka, selama fundamental kuat ditopang oleh narasi yang mendorong ekspektasi,” katanya kepada Kontan, Selasa (13/1). 

Nico mengatakan kenaikan kinerja indeks IDX Value30 yang lebih tinggi dibanding IHSG menunjukkan adanya potensi bahwa saham murah namun memiliki fundamental bagus kian semakin diburu. 

Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menambahkan, dengan narasi rebalancing MSCI akan mendorong laju saham saham konglomerasi yang sebelumnya ditargetkan untuk masuk ke dalam indeks global tersebut. 

Namun Miftahul menilai saham perbankan juga punya peluang untuk menunjukkan kinerja yang baik di tahun ini dengan evaluasi yang sudah price in dan perbaikan katalis di awal 2026. 

Dari konstituen IDX Value30, lanjut Miftahul, saham-saham seperti BBCA, BMRI, ASII, TLKM, hingga UNTR masih tergolong atraktif pada 2026 karena kombinasi valuasi yang lebih menarik. 

“Kelima saham itu punya kombinasi valuasi yang lebih menarik, likuiditas tinggi, dan peluang pemulihan laba sehingga berpotensi menjadi tujuan rotasi dana ketika euforia saham konglomerasi mulai mereda,” katanya. 

Nico menilai saham-saham perbankan terlihat lebih menarik karena harganya murah, secara sektor juga menarik dan fundamental masih kuat. Namun secara volatilitas akan rendah. 

“Oleh sebab itu, potensi kenaikkan tetap terbuka namun secara pergerakan akan jauh lebih lambat kenaikkannya daripada saham saham konglomerasi,” ucap Nico. 

Dari saham-saham indeks IDX Value30, Nico menilai saham AADI, AMRT, ASII, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, CPIN, ICBP, INDF, INKP, ITMG, JPFA, MBMA, MDKA, PGAS dan PGEO masih menarik untuk dicermati. 

BEI Suspensi Saham PADI, RMKE, PPGL, LMAX, Begini Rekomendasinya

Leave a Comment