Rekor lagi! IHSG mendarat di level 9.075,41 hari ini (15/1)

Muamalat.co.id , JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali memecahkan rekor penutupan tertinggi baru atau all time high pada perdagangan hari ini, Kamis (15/1/2026). Sejumlah saham berkapitalisasi jumbo seperti DCII, PANI, atau DSSA menjadi motor pendorong indeks komposit.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat 0,47% ke posisi 9.075,41. Level IHSG saat ini merupakan rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah. 

Posisi itu melampaui rekor ATH IHSG yang dicetak pada perdagangan Rabu (14/1/2026) di level penutupan 9,032,58. Pada perdagangan kemarin, IHSG untuk pertama kalinya bermanuver di kisaran 9.000.

Adapun sepanjang hari, indeks komposit sempat melaju di level 9.041–9.100,83. Sebanyak 362 saham menguat, 342 melemah, dan 254 saham stagnan.

Dari jajaran saham berkapitalisasi jumbo, penguatan dipimpin oleh saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) yang menguat 3,71% ke Rp218.000, diikuti saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) yang menguat 3,04% ke Rp11.850, dan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang naik 2,80% ke Rp111.000.

Sejumlah saham perbankan juga tercatat mengalami apresiasi dipimpin oleh saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menguat 4,13% ke Rp4.540, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menguat 3,10% ke Rp4.990, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 2,69% ke Rp3.820, dan saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menguat 0,94% ke Rp8.075.

: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Kamis 15 Januari 2026

Penguatan harga juga dialami oleh beberapa saham milik konglomerat Prajogo Pangestu, seperti saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menguat 1,52% ke Rp6.675, saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menguat 0,52% ke Rp9.700, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) menguat 0,33% ke Rp1.525 per saham.

Di sisi lain, saham PT Astra International Tbk. (ASII) melemah 1,05% ke level Rp7.050, PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) melemah 3,08% ke posisi Rp2.530, dan saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) terdepresiasi 2,84% ke level Rp410. 

Sebelumnya, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Farell Nathanael menilai sejumlah sektor, terutama perbankan, berpeluang diuntungkan oleh penguatan sinergi kebijakan antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah guna mempercepat penyaluran kredit serta menopang ekspansi ekonomi yang berkelanjutan.

Di tengah tren penurunan suku bunga acuan dan persaingan yang semakin ketat, Farell menilai margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan berpotensi tertekan akibat penurunan imbal hasil kredit. Namun, tekanan tersebut dinilai dapat diredam oleh penurunan cost of fund seiring perbaikan likuiditas, baik melalui injeksi likuiditas pemerintah, kebijakan moneter yang lebih longgar, maupun penurunan imbal hasil obligasi pemerintah. 

: Harga Emas Antam Hari Ini Kamis (15/1) Rekor Lagi, 1 Gram Dijual Rp2,67 Juta

Selain itu, insentif likuiditas makroprudensial dari Bank Indonesia diharapkan mampu mempercepat transmisi penurunan BI Rate ke suku bunga kredit. 

Dengan kondisi tersebut, sejumlah saham perbankan seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), hingga Bank Negara Indonesia (BBNI) dinilai masih mampu memberikan imbal hasil yang kompetitif. 

“Prospek sektor perbankan, khususnya saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, tetap menarik seiring valuasi yang relatif murah serta imbal hasil dividen yang kompetitif, terutama dari bank-bank BUMN,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (14/1/2026).

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Leave a Comment