Muamalat.co.id JAKARTA — Indeks bergengsi LQ45 diteropong memiliki potensi untuk merangkak naik setelah evaluasi mayor yang berlaku efektif pada awal bulan depan. Meski demikian, arah pasar saham dalam jangka pendek dinilai masih dibayangi volatilitas tinggi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 27 Januari 2026, indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 3,85% year-to-date (YtD) ke level 8.980,23. Pada saat yang sama, indeks LQ45 menguat 3,49% atau underperform terhadap indeks komposit.
Dalam perkembangan terbaru, BEI telah melakukan perombakan konstituen atau rebalancing anggota indeks LQ45 untuk periode 2 Februari sampai dengan 30 April 2026. Hasilnya, saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) masuk ke indeks LQ45 menggantikan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES).
Terkait dengan itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa masuknya konstituen baru seperti BREN ke dalam indeks LQ45 membawa pengaruh signifikan lantaran bobot perseroan yang mencapai 6,83%.
Sementara itu, penambahan emiten dengan kapitalisasi pasar besar dan likuiditas tinggi seperti BUMI hingga EMTK diproyeksikan meningkatkan aktivitas transaksi dan daya tarik indeks di mata investor global.
“Perombakan ini mencerminkan adaptasi bursa terhadap sektor-sektor yang sedang bertumbuh, seperti energi terbarukan dan mineral hilirisasi, sehingga prospek kinerja indeks-indeks utama dinilai lebih cerah dan relevan dengan dinamika pasar saat ini,” ujar Abida kepada Bisnis, Selasa (27/1/2026).
: Daftar IPO Terbesar Asia Tenggara 2025, EMAS dan SUPA Masuk Top 10
Optimisme bahwa indeks unggulan mampu menyalip kinerja IHSG sepanjang 2026 didasari oleh realisasi awal tahun yang positif. Tercatat, indeks LQ45 sempat menguat 4,24% dibandingkan indeks komposit yang tumbuh 3,80%.
Abida menilai pembalikan tren ini didukung oleh valuasi saham-saham blue chip yang relatif masih murah setelah sempat tertinggal sepanjang 2025.
Selain itu, restrukturisasi dan penguatan disiplin neraca BUMN oleh Danantara Indonesia diprediksi bakal memulihkan kepercayaan investor institusi.
Ke depannya, laju indeks paling likuid di BEI itu dinilai juga akan dipengaruhi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) melalui stabilitas BI-Rate di level 4,75%, serta perubahan metodologi free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Abida menyatakan faktor-faktor eksternal seperti fluktuasi harga komoditas global, terutama emas dan nikel, diperkirakan tetap menjadi katalis utama yang menggerakkan rotasi sektor di pasar modal Indonesia sepanjang 2026.
“Kehadiran badan investasi Danantara yang fokus pada perbaikan fundamental BUMN serta fluktuasi harga komoditas global, terutama emas dan nikel, juga menjadi katalis utama yang menggerakkan rotasi sektor,” pungkasnya.
: Nilai Tukar Rupiah Rentan Terkoreksi Jelang FOMC Meeting The Fed (28/1)
Dihubungi terpisah, analis Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer menjelaskan biasanya rebalancing akan memberi dorongan jangka pendek melalui aliran dana pasif dari reksa dana indeks maupun Exchange Traded Fund (ETF).
“Sehingga likuiditas dan visibilitas saham-saham tersebut meningkat,” ujar Mifta, Selasa (27/1/2026).
Namun, lanjutnya, dampak berkelanjutannya tetap sangat bergantung pada fundamental dan katalis masing-masing emiten.
Selain itu, Mifta juga menuturkan peluang untuk indeks-indeks ini mengalahkan IHSG secara performa 2026 masih cukup masuk akal. Alasannya, pelonggaran suku bunga global, stabilisasi rupiah, serta pemulihan selektif laba big caps akan menjadi katalis, terutama bagi emiten-emiten di sektor perbankan dan energi.
Lebih lanjut, Mifta juga mengatakan secara umum laju LQ45 ke depannya juga masih akan dipengaruhi oleh arus dana asing, dinamika suku bunga, dan nilai tukar.
IDX COMPOSITE INDEX – TradingView
Senada, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menyampaikan bahwa masuknya saham berkapitalisasi jumbo, seperti BREN dapat mendorong agresivitas yang tinggi terhadap laju indeks.
Menurutnya, karakteristik saham yang cenderung volatil tetapi memiliki bobot besar akan membuat indeks LQ45 dan IDX30 menjadi lebih reaktif terhadap sentimen yang memengaruhi grup usaha tertentu.
“Indeks LQ45 dan IDX30 bisa menjadi lebih sensitif terhadap pergerakan emiten grup tertentu dan hal tersebut bisa mengurangi dominasi sektor perbankan,” ujar Wafi saat dihubungi Bisnis, Selasa (27/1/2026).
Wafi menambahkan bahwa terdapat beberapa faktor yang akan memengaruhi laju indeks unggulan. Kembalinya aliran dana asing serta sentimen penurunan suku bunga acuan diprediksi menjadi katalis yang mendorong rotasi ke sektor.
Investor diperkirakan akan mulai melirik sektor non-energi dan infrastruktur seiring dengan meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
Terkait prospek kinerja, Wafi memandang indeks unggulan memiliki peluang besar untuk mencatatkan performa di atas indeks komposit sepanjang 2026.
Hal tersebut didorong momentum pasar yang mulai kembali pada saham-saham berkualitas dan investor memfokuskan kembali portofolio pada saham-saham likuid dengan fundamental kuat, yang secara valuasi masih tertinggal.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.