Hari Ini (23/4) Cum Date Dividen AALIRp 647 M, Apakah Saatnya Beli / Jual?

Muamalat.co.id Jakarta. Hari ini, Kamis 22 April 2026 adalah cum dividen date saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Anak usaha Astra Group ini akan membayarkan dividen tunai berjumlah Rp 647 miliar. Lalu, apakah saham AALI layak dibeli?

Cum dividen date adalah periode akhir suatu saham memiliki hak dividen. Investor yang ingin mendapatkan jatah dividen, harus membeli saham tersebut paling lambat saat cum date dan menyimpannya hinggal tanggal pencatatan.

AALI membagikan dividen tunai sebesar Rp881,5 miliar atau Rp458 per saham. Direktur Astra Agro Tingning Sukowignjo mengatakan bahwa besaran itu setara dengan 60% dari laba bersih AALI pada tahun 2025.

Sebelumnya, pada 24 Oktober 2025, AALI telah membayarkan dividen interim sebesar Rp236 miliar atau Rp123 per saham. 

“Sisanya sebesar Rp647 miliar atau Rp335 per saham akan dibayarkan pada 13 Mei 2026 kepada pemegang saham,” ujarnya dalam Public Expose AALI, Rabu (15/4/2026).

Hari Ini (23/4) Cum Date, Harga Saham Rp 1.915, Dividen Rp 21.100 Per Lot

Jadwal Pembayaran Dividen Saham AALI 

Berikut adalah rincian jadwal dividen final AALI tahun buku 2025:

  • Cum Dividen (Pasar Reguler & Negosiasi): 23 April 2026
  • Ex Dividen (Pasar Reguler & Negosiasi): 24 April 2026
  • Cum Dividen (Pasar Tunai): 27 April 2026
  • Ex Dividen (Pasar Tunai): 28 April 2026
  • Recording Date (Penentuan Pemegang Saham): 27 April 2026
  • Pembayaran Dividen: 13 Mei 2026

Tonton: Perjuangan Abdi Dalem Puro Pakualaman Yogyakarta Naik Haji

Kinerja AALI

Sebagai gambaran, AALI membukukan laba bersih senilai Rp1,5 triliun di tahun 2025. Ini naik 28% year-on-year (yoy) di tengah volatilitas harga crude palm oil (CPO) dan turunannya.

Perseroan juga mencatatkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 31% menjadi Rp28,66 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp21,82 triliun. 

Presiden Direktur Astra Agro, Djap Tet Fa mengungkapkan, peningkatan pendapatan merupakan efek dari kenaikan produksi CPO sebesar 6% yoy menjadi 1,2 juta ton dan produksi kernel sebesar 8% yoy menjadi 252 ribu ton. Volume penjualan CPO dan turunannya pada 2025 naik 13% menjadi 1,8 juta ton.

Di tahun 2026, AALI menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 1,4 triliun pada tahun 2026. Angka ini naik 79% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan realisasi tahun 2025 yang sebesar Rp782 miliar.

Tet Fa merinci, mayoritas dana tersebut atau sekitar 63,8% akan dialokasikan untuk sektor perkebunan (plantation), termasuk agenda penanaman kembali (replanting). 

Langkah ini diambil untuk memastikan produktivitas tanaman tetap optimal di tengah beban input produksi yang mahal.

“Lalu untuk mill (pabrik) dan port sebesar 19,8%, serta sektor non-plantation untuk pengadaan kendaraan angkut dan aset pendukung lainnya sebesar 16,4%,” tuturnya.

Alokasi pada kendaraan angkut dan infrastruktur pendukung ini menjadi krusial. Sebab, kenaikan biaya logistik merupakan salah satu dampak langsung dari krisis energi saat ini. 

“Dengan memiliki infrastruktur angkut yang lebih mumpuni, perseroan berharap dapat mengontrol efisiensi operasional dengan lebih baik,” tuturnya.

Volatilitas harga minyak dunia diakui mengerek harga solar non-subsidi hingga hampir dua kali lipat dalam waktu singkat. Alhasil, eskalasi tensi geopolitik global di Timur Tengah menyebabkan tekanan signifikan pada struktur biaya operasional perusahaan.

“Solar non-subsidi itu sudah meningkat. Sampai bulan April ini peningkatan sudah hampir 90% dari sebelumnya. Biasanya Rp14.000-Rp15.000, sekarang mungkin sudah hampir Rp25.000 (per liter),” tuturnya.

Menurut Tet Fa, lonjakan ini merupakan realitas yang tidak dapat dihindari bagi pelaku industri komoditas global. Selain meningkatkan harga bahan bakar, konflik Timur Tengah juga membuat harga pupuk naik.

Tonton: Rupiah Tertekan ke 17.181, Pergerakan Asia Tak Seragam

Rekomendasi Saham AALI

Research Associate Panin Sekuritas, Luthfi Novardiansyah melihat, kinerja pertumbuhan AALI pada tahun 2026 relatif solid.

Kinerja perseroan akan didukung oleh harga CPO global yang relatif menguat atas dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah, serta potensi peningkatan permintaan domestik dari implementasi kebijakan B50 yang dijadwalkan mulai 1 Juli 2026. 

Saat ini, kata Luthfi, AALI berfokus pada strategi replanting dengan target penanaman sekitar 6.000 – 8.000 hektare per tahun, seiring umur tanaman perseroan yang relatif menua. 

“Hal ini pun berpotensi menekan produktivitas yang tercatat dengan fresh fruit bunches (FFB) Yield di 2025 sebesar 15,66 per ton,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (15/4/2026).

Selain itu, perseroan menetapkan dividend payout ratio (DPR) sebesar 60% dari total laba bersih tahun buku 2025, dengan total dividen mencapai Rp881,5 miliar.  “Sebagai perbandingan, DPR di tahun 2024 sebesar 45%,” ungkapnya.

Luthfi pun merekomendasikan hold untuk AALI dengan target harga Rp 8.350 per saham.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo melihat, kinerja AALI diperkirakan masih tumbuh, namun lebih moderat setelah lonjakan pada tahun 2025. 

“Kinerja tahun lalu didorong oleh kenaikan harga CPO dan pemulihan produksi, di mana laba bersih naik sekitar 28% YoY,” katanya kepada Kontan, Rabu (15/4).

Ke depan, produksi masih berpotensi meningkat sekitar 7% YoY seiring perbaikan produktivitas. Namun, program replanting dapat menahan pertumbuhan jangka pendek, karena sebagian lahan belum produktif. 

Sentimen positif penggerak kinerja AALI berasal dari harga CPO yang masih relatif tinggi dan permintaan biodiesel.

“Sementara, risiko utama berasal dari volatilitas harga CPO, cuaca, serta kenaikan biaya dari pupuk dan operasional,” ungkapnya.

Azis pun merekomendasikan trading buy untuk AALI dengan target harga Rp 9.000 per saham, dengan level support di Rp 7.950 – Rp 7.900 per saham.

Leave a Comment