Muamalat.co.id JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (23/1/2026). Adapun, investor terpantau melakukan aksi ambil untung atau profit taking usai IHSG berkali-kali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
Aksi ambil untung yang masif, ditambah pelemahan nilai tukar rupiah, membuat pergerakan pasar saham domestik cenderung melemah dan penuh volatilitas.
Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas Chory Agung Ramdhani menggambarkan bahwa IHSG terkoreksi sekitar 1,37% ke level 8.895 setelah sempat menyentuh area 9.100. Menurutnya pasar saat ini masih didominasi oleh aksi profit taking.
“Pekan depan IHSG diprediksi masih akan bergerak konsolidasi cenderung melemah dalam rentang 8.800 – 8.950,” ujarnya, Jumat (23/1/2026).
: IHSG Diproyeksi Sentuh Level 10.000 Tahun Ini, Cek Sektor dan Saham Pilihannya
Menurutnya pelaku pasar akan mencermati apakah indeks mampu bertahan di atas level dukungan psikologis pasca koreksi ini. Tekanan terhadap IHSG juga datang dari pelemahan rupiah yang nyaris menyentuh Rp17.000 per dolar AS, level terendah sepanjang sejarah.
Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emiten dengan eksposur utang valuta asing dan ketergantungan pada bahan baku impor. Chory menjelaskan, situasi ini memicu arus keluar dana asing (net sell) yang masif, diperkirakan mencapai sekitar Rp3 triliun dalam sepekan, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti sektor perbankan dan konglomerasi.
“Ke depan, arah IHSG akan sangat bergantung pada langkah intervensi Bank Indonesia serta persepsi pasar terhadap stabilitas fiskal untuk menahan laju outflow,” katanya.
Di tengah tekanan tersebut, pasar kini menantikan sejumlah katalis penting. Salah satunya adalah kepastian stabilitas rupiah, agar investor asing kembali memiliki kepercayaan untuk masuk ke pasar domestik.
Selain itu, terlihat adanya rotasi modal ke aset safe haven, tercermin dari menguatnya sektor emas seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko geopolitik dan inflasi global.
Sentimen berikutnya yang dinilai krusial adalah rilis laporan keuangan pada Kuartal IV/2025. Realisasi kinerja laba emiten akan menjadi penentu apakah valuasi saham saat ini masih menarik untuk dikoleksi kembali setelah koreksi.Dalam kondisi pasar yang bergejolak, Chory menilai strategi investasi cenderung bergeser ke sektor-sektor yang lebih defensif.
Saham emas seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM)dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) menjadi pilihan utama sebagai instrumen lindung nilai di tengah pelemahan nilai tukar. Selain itu, sektor konsumer non-siklikal dinilai relatif lebih tahan terhadap tekanan ekonomi domestik.
Meski saham perbankan masih berada di bawah tekanan jual asing, peluang buy on weakness tetap terbuka apabila harga sudah mencapai level valuasi yang menarik.
“Fundamental perbankan besar masih solid, sehingga layak dipantau ketika diskonnya semakin dalam,” ujarnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.