Muamalat.co.id , JAKARTA — Pergerakan saham perbankan berkapitalisasi besar cenderung melemah pada Senin (5/1/2025). Dari empat saham bank jumbo, hanya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mampu ditutup di zona hijau pada perdagangan hari ini.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) ditutup turun 0,49% atau 25 poin ke level Rp5.050 per saham. Secara year to date (YtD), saham BMRI telah terkoreksi 1,46% atau setara 75 poin.
Tekanan juga dialami PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI). Saham BBNI melemah 0,7% atau 30 poin ke posisi Rp4.230 per saham. Adapun secara YtD, saham bank pelat merah tersebut tercatat turun 2,53% atau 110 poin.
: Suku Bunga Deposito Bank Digital (Allo Bank, SeaBank Cs) Terbaru Januari 2026
Bank Central Asia Tbk. – TradingView
Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) ditutup turun 0,27% atau 10 poin ke level Rp3.630 per saham. Sejak awal tahun, saham BBRI telah terkoreksi 0,82% atau sekitar 30 poin.
Di tengah pelemahan mayoritas saham bank jumbo, BBCA justru mencatatkan penguatan. Saham BCA tersebut ditutup naik 0,62% atau 50 poin ke level Rp8.075 per saham. Namun demikian, secara YtD pergerakan saham BBCA masih terpantau relatif mendatar.
: : Target Guyuran Likuiditas Meleset, Purbaya Senggol BI dan Tuding Bank Main Aman
Adapun, kondisi ini seperti kelanjutan dari pelemahan saham perbankan 2025, tanpa terkecuali bank besar. Namun demikian, Equity Research Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer menilai koreksi yang terjadi sepanjang 2025 justru membuat valuasi saham perbankan besar mulai kembali ke area yang lebih menarik secara historis.
“Kami kira di tahun 2026 ini valuasi saham big banks setelah koreksi sepanjang 2025 sudah mulai kembali ke area yang lebih menarik secara historis, terutama untuk bank dengan kualitas aset yang kuat dan profitabilitas yang stabil,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (5/1/2025).
: : Purbaya Bantah Permintaan Kredit Lemah, Tuding Bank yang ‘Cari Aman’
Miftahul menambahkan peluang rebound saham perbankan ke depan masih terbuka lebar, meskipun pasar tetap dibayangi risiko volatilitas jangka pendek, terutama dari arah suku bunga global dan dinamika likuiditas.
Adapun faktor kunci pemulihan saham perbankan, menurutnya, akan ditentukan oleh kombinasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif, normalisasi cost of fund, perbaikan net interest margin (NIM), serta pertumbuhan kredit yang lebih berkualitas seiring pemulihan daya beli masyarakat.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.