Glencore lego sejumlah saham CITA dan NCKL
Glencore tercatat melepas sejumlah saham CITA dan NCKL, masing-masing sebanyak 248.400 lembar dan 53,09 juta lembar per 20 Januari 2026.
Glencore tercatat melepas sejumlah saham CITA dan NCKL, masing-masing sebanyak 248.400 lembar dan 53,09 juta lembar per 20 Januari 2026.
Glencore menjual saham Harita Nickel senilai Rp276,9 miliar, mengurangi kepemilikan dari 7,20% menjadi 6,87%, di tengah kenaikan harga nikel global.
Chengdong Investment Corp menjual 3,71 miliar saham BUMI pada Desember 2025, menurunkan kepemilikan dari 6,99% menjadi 5,99%.
Happy Hapsoro menjual 50 juta saham BUVA senilai Rp41,95 miliar untuk realisasi keuntungan dan meningkatkan saham free float.
Chengdong Investment menjual 133,38 juta saham BUMI dalam 3 sesi pada Oktober 2025, mengurangi kepemilikan menjadi 9,02%. Tujuan transaksi adalah divestasi.
Green Era Energy milik Prajogo Pangestu menjual 481,22 juta saham BREN senilai Rp4,16 triliun untuk meningkatkan likuiditas dan free float di bursa.
PT Multi Artha Pratama, pengendali PANI, melepas 178,23 juta saham senilai Rp2,5 triliun untuk meningkatkan porsi publik dan likuiditas saham.
PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) mendirikan anak usaha baru, PT Solusi Sinergi Borneo (SSB), di Pontianak untuk ekspansi bisnis di bidang ISP dan perdagangan.
Bank Maspion (BMAS) tingkatkan saham free float jadi 10,52% usai divestasi yang dilakukan Alim Investindo.
Happy Hapsoro menjual 483 juta saham BUVA, mengurangi kepemilikannya dari 7,91% menjadi 5,56%, dan meraih Rp130 miliar dalam dua hari pada September 2025.