Risiko gejolak rupiah mengintai saat BI setop operasi moneter selama Lebaran
Rencana Bank Indonesia menghentikan operasi moneter selama Lebaran berisiko memicu gejolak rupiah saat pasar buka kembali. Risiko utama berasal dari pasar global.
Rencana Bank Indonesia menghentikan operasi moneter selama Lebaran berisiko memicu gejolak rupiah saat pasar buka kembali. Risiko utama berasal dari pasar global.
Bank Indonesia diperkirakan masih akan memangkas suku bunga acuan beberapa kali hingga akhir 2026. Kapan saja prediksi waktunya?
Menkeu, Gubernur BI, dan Mensesneg bertemu di Istana bahas sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter untuk stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.
Kemenkeu menerbitkan obligasi tenor pendek untuk mengelola utang negara dan memanfaatkan kelebihan likuiditas bank. Strategi ini menarik minat investor.
Investor asing tertarik ke pasar saham Indonesia pada 2026 karena stabilitas ekonomi, valuasi menarik, dan potensi pemangkasan suku bunga.
Sepanjang 2025, pasar saham Indonesia Muamalat.co.id sell asing Rp17,34 triliun, meski IHSG naik 22,13%. Saham BBCA dan BMRI jadi sasaran utama.
Indeks Bisnis-27 dibuka menguat 0,62% ke 554,96, didorong oleh kenaikan saham ADRO, ADMR, TLKM, dan BBCA.
IHSG berpotensi tembus 9.000 akhir 2025, namun dibayangi kebijakan The Fed. Investor disarankan buy on weakness pada saham fundamental kuat.
Bank Indonesia (BI) mendapat mandat baru dari UU P2SK untuk memperkuat sektor riil dengan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
BI dan pemerintah berencana mengajukan RUU Redenominasi Rupiah ke DPR.