Muamalat.co.id NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Selasa (21/4/2026), setelah reli di awal sesi terhapus oleh meningkatnya kekhawatiran konflik Timur Tengah.
Isu geopolitik, khususnya terkait Iran, menekan sentimen pasar dan mengalahkan optimisme atas kinerja laba perusahaan serta prospek kecerdasan buatan (AI).
Indeks utama kompak turun. Dow Jones Industrial Average merosot 293,18 poin atau 0,59% ke 49.149,38.
Wall Street Dibuka Menguat pada Awal November, Didorong Optimisme Permintaan AI
S&P 500 turun 45,13 poin atau 0,63% ke 7.064,01, sementara Nasdaq Composite melemah 144,43 poin atau 0,59% ke 24.259,96. Padahal, S&P 500 sempat menguat hingga 0,4% di awal perdagangan.
Tekanan pasar meningkat setelah muncul kabar Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan kunjungannya ke Pakistan untuk pembicaraan perdamaian. Sebelumnya, pasar sempat berharap ada kemajuan diplomatik yang bisa meredakan konflik.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan negaranya terbuka untuk menghadiri pembicaraan dengan AS di Pakistan, namun dengan syarat Washington menghentikan kebijakan tekanan dan ancaman.
Teheran juga menegaskan menolak negosiasi yang mengarah pada bentuk penyerahan diri.
Wall Street Perpanjang Saham Reli Teknologi, Nvidia Redam Kekhawatiran AI
Thomas Martin, manajer portofolio senior di GLOBALT Investments, mengatakan pasar saat ini dihadapkan pada dua kekuatan besar: kinerja fundamental perusahaan yang solid dan ketidakpastian geopolitik.
“Ada ekspektasi yang sangat baik untuk laba perusahaan dan ekonomi juga masih berjalan baik. Tapi ketidakpastian soal Iran ini yang membingungkan pasar,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, data Departemen Perdagangan AS menunjukkan penjualan ritel melonjak 1,7% pada Maret, kenaikan terbesar sejak Maret 2025 dan di atas ekspektasi pasar sebesar 1,4%.
Kenaikan ini didorong lonjakan harga bensin di tengah konflik, yang memicu rekor pendapatan di SPBU.
Meski begitu, data kuat tersebut tidak cukup menahan tekanan pasar.
Di sisi korporasi, sentimen sebenarnya masih cukup positif. Ekspektasi pertumbuhan laba kuartal I diperkirakan mencapai 14%, didorong sektor teknologi dan AI. J.P. Morgan bahkan menaikkan target akhir tahun S&P 500, mengandalkan momentum AI.
Amazon menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana investasi hingga US$ 25 miliar ke perusahaan AI Anthropic. Sahamnya ditutup naik 0,66%.
Sektor energi menjadi satu-satunya yang menguat, naik 1,31% seiring lonjakan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah.
Sementara itu, saham UnitedHealth melonjak 7% setelah membukukan kinerja kuartal I di atas ekspektasi dan menaikkan proyeksi laba tahunan. Kenaikan ini menjadi penopang terbesar bagi Dow.
Wall Street Anjlok, Penurunan Saham Teknologi Semakin Dalam Akibat Kekhawatiran AI
Sebaliknya, saham Apple turun 2,52% setelah perusahaan mengumumkan CEO Tim Cook akan menyerahkan kendali kepada kepala divisi perangkat keras, John Ternus.
Dari sisi kebijakan moneter, investor juga mencermati perkembangan proses konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve.
Dalam sidang Senat, Warsh menegaskan tidak membuat komitmen kepada Presiden Donald Trump terkait pemangkasan suku bunga dan menekankan independensi bank sentral.
Namun proses ini terancam tersendat. Senator Republik Thom Tillis berjanji akan memblokir konfirmasi Warsh hingga penyelidikan terhadap Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, dihentikan.
Wall Street Menguat Tipis, Data Tenaga Kerja Redam Kekhawatiran Ekonomi AS
Kebuntuan ini menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter, terlebih Trump sebelumnya menyatakan akan mencopot Powell jika tidak mundur setelah masa jabatannya berakhir pada Mei.
Secara keseluruhan, tekanan jual mendominasi pasar. Di NYSE, jumlah saham yang turun melampaui yang naik dengan rasio 2,67 banding 1, sementara di Nasdaq rasionya 2,53 banding 1.
Volume perdagangan tercatat 18,08 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 18,4 miliar saham.
Kombinasi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan membuat pasar kembali defensif, meski fondasi fundamental perusahaan masih relatif kuat.