Indeks saham ESG underperform di tengah euforia IHSG 2025

Indeks saham berbasis ESG menunjukkan kinerja yang lesu pada 2025, dengan IDXESGL hanya naik 2,87% dan SRI-KEHATI naik 2,16%, sementara IHSG menguat 22,10%.

Saham konsumer kian manis usai pemerintah batalkan cukai MBDK

Pemerintah membatalkan cukai minuman berpemanis (MBDK) hingga 2026, memberi angin segar bagi saham konsumer meski tantangan daya beli tetap ada.

Melirik Saham Emiten Peritel MDIY, ACES, ERAA Jelang Pesta Belanja Akhir Tahun

Emiten peritel seperti MDIY, ACES, dan ERAA memanfaatkan momentum belanja akhir tahun untuk meningkatkan penjualan dengan strategi diskon dan promosi. Meskipun daya beli masyarakat lemah, momen Natal dan Tahun Baru diharapkan mendongkrak kinerja mereka.

BI Rate Tetap 4,75%, Apindo Ungkap Efek ke Dunia Usaha

BI mempertahankan suku bunga 4,75% untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Apindo pun memberikan tanggapan.

Katalis Santa Claus Rally ke Saham Emiten Peritel AMRT, MAPI Cs

Saham peritel seperti AMRT dan MAPI diproyeksikan naik akhir tahun berkat Santa Claus Rally, didorong belanja konsumen saat Natal dan Tahun Baru.

BLT Rp30T Cair: Saham UNVR MYOR ICBP Siap Panen Cuan?

Saham konsumer UNVR, MYOR, ICBP berpotensi naik dengan BLT Rp30 triliun, meski dampaknya jangka pendek. Pemulihan daya beli penting untuk pertumbuhan jangka panjang.

OPINI: Angin Segar Keran Likuiditas BI

Bank Indonesia menurunkan suku bunga menjadi 4,75% untuk mendorong likuiditas dan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini diharapkan memudahkan kredit dan meningkatkan konsumsi.

Paket Ekonomi 8+4+5: Saham Konsumer Bakal Untung Jangka Panjang?

Paket ekonomi 8+4+5 diharapkan jadi katalis jangka panjang saham konsumer, meningkatkan daya beli dan investasi, meski perlu pengawasan ketat untuk efektivitas.

Saham Konsumer Prospektif: Ekonomi 5,2%, Pilih yang Terbaik!

Analis optimis emiten konsumer terdongkrak target ekonomi 5,2-5,6% di 2026. Investasi dan daya beli meningkat, tetapi perbaikan fundamental tetap krusial.

Heboh Rojali & Rohana: BI Jakarta Akhirnya Buka Suara

Bank Indonesia Jakarta menyatakan fenomena Rojali & Rohana tidak berdampak besar pada ekonomi Jakarta. Apa alasannya?