IHSG Dibuka di Zona Merah, Saham Emiten Emas ANTM, BRMS, AMMN Jeblok
IHSG dibuka turun 0,21% ke 8.220,4 pada 22/10/2025, dipengaruhi penurunan saham emas seperti ANTM dan BRMS. Saham bank besar menguat, menanti keputusan BI Rate.
IHSG dibuka turun 0,21% ke 8.220,4 pada 22/10/2025, dipengaruhi penurunan saham emas seperti ANTM dan BRMS. Saham bank besar menguat, menanti keputusan BI Rate.
IHSG hari ini dibuka melemah ke 8.119,35 pada 17 Oktober 2025, meski saham AMMN, BBCA, dan UNVR menguat.
IHSG mencapai rekor tertinggi 8.257,85 pada 6-10 Oktober 2025, didorong saham CUAN, AMMN, dan PGUN. Kapitalisasi pasar BEI naik 3,19% menjadi Rp15.560 triliun.
IHSG naik 0,73% ke 8.099,33 pada 26 September 2025, didorong oleh saham BRPT dan MBMA. Investor asing beli bersih Rp583,1 miliar, meski tahunan jual bersih Rp53,59 triliun.
Sejumlah saham big caps seperti AMMN, BMRI hingga BBCA terpantau memuncaki top laggards yang membebani laju IHSG sepekan periode 15 hingga 19 September 2025.
Saham ANTM, TLKM hingga ASII menjadi incaran investor asing meski ada outflow. JP Morgan dan OCBC Sekuritas memberikan pandangan positif & rekomendasi beli.
IHSG tetap kokoh meski dana asing keluar, didukung saham DSSA, ANTM, dan AMMN yang menguat. Saham emas naik karena tren harga emas dan ekspektasi suku bunga.
IHSG diproyeksi tertekan akibat demo di Jakarta, tetapi saham big caps seperti BBNI, BBCA, BMRI, dan BBRI tetap direkomendasikan oleh analis.
IHSG diprediksi melemah akibat gejolak politik, namun saham emas dan perbankan seperti BBRI, AMMN, dan BRMS masih prospektif untuk dibeli.
Sejumlah saham big caps seperti BBCA, AMMN hingga TLKM terpantau memuncaki top laggards yang membebani laju IHSG sepekan periode 25 hingga 29 Agustus 2025.