
Muamalat.co.id, JAKARTA – Pada perdagangan Jumat, 29 Agustus 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa mengakhiri sesi dengan koreksi signifikan sebesar 1,53%, ditutup di level 7.830,49. Hasil ini secara mengejutkan memutus harapan pasar untuk menembus level psikologis 8.000, setelah sebelumnya sempat menunjukkan momentum penguatan beruntun.
Secara historis, dalam lima tahun terakhir, kinerja IHSG cenderung bearish sepanjang bulan September. Namun, memasuki kuartal IV, indeks acap kali menunjukkan tren bullish yang menjanjikan. Sayangnya, penggiat pasar modal Reydi Octa menilai bahwa tren positif ini berpotensi terganjal oleh dinamika sosial-politik dalam negeri yang memanas. Gejolak demonstrasi telah semakin intens sejak awal pekan ini, tepatnya Senin, 25 Agustus 2025.
: Media Asing Soroti IHSG dan Rupiah Ambles Gegara Demo DPR Ricuh
Reydi menjelaskan, “Tren seasonal bullish IHSG di kuartal IV bisa terganggu apabila gejolak sosial-politik berlarut. Sebab, investor tidak hanya mempertimbangkan data fundamental dan ekonomi semata, melainkan juga sangat memperhatikan stabilitas,” pungkasnya pada Jumat, 29 Agustus 2025.
Membedah pergerakan IHSG sepanjang pekan ini, indeks sebenarnya sempat membuka hari pertama dengan penguatan impresif 0,87%, mencapai 7.926,91. Meskipun sempat terkoreksi 0,27% ke 7.905,76 di hari berikutnya, optimisme untuk menembus level 8.000 kembali muncul setelah pasar menguat 0,38% ke 7.936 di hari ketiga, dan berlanjut dengan kenaikan 0,20% ke 7.952 pada hari keempat.
: : Kinerja Harga Saham Emiten Jumbo Saat IHSG Hari Ini (29/8) Ditutup Ambrol 1,53% ke 7.830
Yang menarik, di tengah dua hari penguatan tersebut, justru terjadi aksi jual bersih oleh investor asing (net sell). Pada penutupan Rabu, 27 Agustus 2025, net sell asing tercatat sebesar Rp212,58 miliar. Tekanan jual ini semakin membesar pada penutupan Kamis, 28 Agustus 2025, dengan nilai mencapai Rp278,76 miliar.
: : Indeks Bisnis-27 Ikut Arah IHSG, ANTM Melawan Arus ke Zona Hijau
“Apabila gelombang demonstrasi semakin tak terkendali tanpa respons konkret dari pemerintah, aliran modal masuk (capital inflow) berpotensi tertahan dan IHSG akan terus rawan koreksi,” Reydi memperingatkan.
Bukannya meredakan ketegangan dan menenangkan pasar, beberapa respons pejabat justru memicu keresahan lebih lanjut. Puncaknya terjadi pada Kamis malam, 28 Agustus 2025, saat pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan (21) tewas terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob dalam kerusuhan demonstrasi di Jakarta Pusat. Insiden tragis ini sontak memicu ribuan pengemudi ojol untuk menggelar demonstrasi besar-besaran di berbagai kota di Indonesia hari ini.
Menurut Reydi, pemerintah memiliki peran krusial untuk segera meredam aksi demonstrasi dengan komunikasi politik yang tegas serta memberikan kepastian arah kebijakan. “Langkah ini vital agar menjelang akhir tahun, bursa saham dapat kembali bangkit,” ujarnya optimis. Meskipun demikian, Reydi menekankan bahwa koreksi IHSG akibat gejolak sosial-politik ini cenderung bersifat jangka pendek. Terlebih lagi, ia melihat ada sejumlah faktor positif di pasar yang berpotensi mendorong laju IHSG ke depan.
Pertama, Bank Indonesia telah memberikan sinyal pelonggaran BI Rate, menyusul pemangkasan pada bulan Agustus menjadi 5%. Kedua, The Fed juga diproyeksikan akan melakukan pemangkasan suku bunga pada September mendatang. Faktor pendukung lainnya adalah penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun di kisaran 6,3% serta Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sekitar 5,05%. Kondisi ini membuat pasar saham menjadi lebih atraktif dibandingkan instrumen investasi lainnya bagi para investor. Momentum tersebut dipercaya dapat menopang valuasi IHSG, khususnya saham-saham bank berkapitalisasi besar (jumbo) yang sensitif terhadap kebijakan moneter dan memiliki bobot signifikan dalam indeks.
Reydi menyimpulkan, “Momentum penurunan suku bunga akan semakin dominan pengaruhnya ke depan. Saya melihat koreksi yang terjadi, terutama jika indeks bisa turun lebih dalam, justru akan menjadi peluang emas untuk potensi rebound di masa mendatang.”
Senada, Adrian Joezer, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, sebelumnya menyatakan bahwa pasar saham kini berada di posisi menguntungkan dengan tren suku bunga rendah. Situasi ini mendorong investor untuk lebih melirik saham dibandingkan instrumen investasi lain. “Jika kita amati, beberapa instrumen investasi lain seperti yield SBN 10 tahun yang kini di sekitar 6,3% dan SRBI di level sekitar 5,05%, justru membuat instrumen saham sangat menarik. Apalagi, imbal hasil dari sisi yield dividen saat ini berada di level hampir 6%,” jelas Adrian, memperkuat pandangan tersebut.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Pada Jumat, 29 Agustus 2025, IHSG ditutup terkoreksi signifikan sebesar 1,53% di level 7.830,49. Koreksi ini memutus tren penguatan sebelumnya dan diprediksi analis dapat berlanjut jika gejolak sosial-politik akibat demonstrasi terus berlanjut. Investor cenderung memperhatikan stabilitas, selain data fundamental dan ekonomi, sehingga demonstrasi yang tak terkendali berpotensi menahan aliran modal masuk dan menekan IHSG.
Namun, Bank Indonesia telah memberi sinyal pelonggaran BI Rate, dan The Fed juga diperkirakan akan memangkas suku bunga. Penurunan yield SBN 10 tahun dan SRBI juga membuat pasar saham lebih menarik. Analis melihat koreksi IHSG sebagai peluang emas untuk rebound di masa depan dan menekankan pentingnya respons konkret dari pemerintah untuk meredam demonstrasi.