Muamalat.co.id – JAKARTA. Penyedia indeks global MSCI memastikan masih mempertahankan pembatasan terhadap saham Indonesia dalam tinjauan indeks Mei 2026 mendatang. Keputusan ini diambil seiring proses evaluasi reformasi transparansi pasar yang baru dilakukan Indonesia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut baik pengumuman mengenai Update on Free Float Assessment of Indonesian Securities yang dirilis oleh MSCI Inc. pada tanggal 20 April 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyampaikan bahwa pengumuman tersebut menegaskan bahwa MSCI telah mencatat dan mengakui berbagai langkah strategis yang telah dilakukan oleh OJK bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dalam rangka memperkuat transparansi dan integritas pasar modal Indonesia.
Bursa Sesuaikan Kriteria Evaluasi Indeks Utama, Siapa Saja Saham yang Bisa Terdepak?
Meski pasar saham Indonesia masih menjadi perhatian MSCI, Chief Marketing Officer Indo Premier Sekuritas (IPOT), Sergio Ticoalu melihat kondisi market yang semakin kompetitif membuat penggunaan teknologi seperti AI real-time trading menjadi faktor pembeda yang signifikan.
Investor yang memiliki akses terhadap data real-time dan sistem analisis yang mumpuni berada dalam posisi yang lebih unggul dibandingkan mereka yang masih mengandalkan sistem dengan keterbatasan informasi.
“Hal ini menunjukkan bahwa performa dalam trading saham tidak hanya ditentukan oleh keberanian, tetapi juga oleh kualitas data dan sistem yang digunakan,” ujar Sergio saat dikonfirmasi Kontan, Rabu (22/4/2026).
Sebagai bagian dari upaya memperluas akses terhadap teknologi ini, IPOT membuka penggunaan aplikasi sahamnya secara gratis, termasuk bagi investor yang sebelumnya menggunakan sekuritas lain. Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan jumlah pengguna, tetapi juga mendorong transformasi cara trading di Indonesia, dari pendekatan manual menuju sistem berbasis AI real-time dan live trading.
Menurutnya, perubahan ini menandai babak baru dalam industri trading saham Indonesia. Di era dimana market bergerak dalam hitungan detik, kecepatan dan akurasi menjadi kunci utama. Tanpa data real-time, investor akan selalu tertinggal. Tanpa dukungan AI trading, investor akan kesulitan membaca kompleksitas market. Dan tanpa sistem yang tepat, konsistensi dalam menghasilkan profit akan sulit dicapai.
“Dengan hadirnya teknologi trading berbasis AI real-time, investor kini memiliki peluang untuk mengambil keputusan yang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih relevan dengan kondisi market yang sebenarnya,” kata Sergio.
Sergio menambahkan, melalui berbagai fitur berbasis AI seperti AI Live, Bandar Action, LADI, hingga Hit Action (HAKA dan HAKI), investor dapat memantau aktivitas market dalam hitungan detik. Data yang sebelumnya hanya tersedia dalam bentuk angka kini dapat diolah menjadi insight yang lebih mudah dipahami.
Ditambah dengan Live Order Book dan Order Queue, transparansi pergerakan market menjadi lebih jelas, memungkinkan investor untuk membaca dinamika permintaan dan penawaran secara langsung tanpa harus bergantung pada asumsi atau spekulasi.
Sergio menilai pendekatan ini mengubah cara investor mengambil keputusan. Jika sebelumnya banyak keputusan didasarkan pada opini, rumor, atau data yang tertunda, kini keputusan dapat diambil berdasarkan kondisi market yang sedang terjadi. Dalam praktiknya, penggunaan data real-time dan analisis berbasis AI membantu investor mengidentifikasi momentum lebih cepat, menghindari entry yang terlambat, serta merancang strategi yang lebih terukur dalam trading saham.
Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.182 per Dolar AS di Siang Ini (22/4), Asia Bervariasi