Deretan saham blue chips konglomerat BYAN, DCII, AMMN pendorong IHSG awal 2026
IHSG awal 2026 mencapai rekor baru 8.859, didorong saham blue chips BYAN, DCII, AMMN, dan ASII. January Effect dan data ekonomi positif mendukung penguatan.
IHSG awal 2026 mencapai rekor baru 8.859, didorong saham blue chips BYAN, DCII, AMMN, dan ASII. January Effect dan data ekonomi positif mendukung penguatan.
Harga emas global melonjak akibat konflik AS-Venezuela, mendorong saham emiten emas seperti BRMS, ANTM, dan HRTA menguat signifikan pada 5 Januari 2026.
IHSG cetak rekor baru di 8.859 pada 5 Januari 2026, didorong saham BYAN, TLKM, dan DCII. Kapitalisasi pasar mencapai Rp16.194 triliun.
IHSG sesi I ditutup naik 0,65% ke level 8.804,84 dengan saham migas MEDC & ENRG menguat. Optimisme pasar didorong oleh Santa Claus Rally dan January Effect.
Saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI menjadi pemberat IHSG 2025, dengan koreksi signifikan yang menghambat laju indeks hingga 7,62%.
IHSG pekan ini diprediksi akan melanjutkan koreksi dengan potensi menguji level 8.500 hingga 8.550. Cek rekomendasi saham ENRG, SIDO, hingga MEDC.
IHSG diprediksi melemah pekan depan, saham pilihan analis: ENRG, SIDO, ISAT, MEDC. Rekomendasi buy on weakness untuk saham-saham tersebut.
IHSG dibuka melemah 0,16% ke 8.606,55, saham perbankan turun, saham emas naik. Analis prediksi koreksi, rekomendasi buy on weakness untuk AMRT dan WIFI.
IHSG dibuka menguat ke 8.425, didorong saham TPIA, ASII, dan bank besar. Sebanyak 210 saham naik, 235 turun, dan 511 stagnan.
IHSG sesi I naik 0,21% ke 8.405, didorong saham SRAJ, DSSA, BRPT. Saham perbankan lesu, sementara saham konglomerat dan Hary Tanoe menguat.