Risalah FOMC The Fed: Kenaikan suku bunga bisa terjadi jika inflasi tetap tinggi
Risalah FOMC The Fed menunjukkan kekhawatiran inflasi akibat perang Iran, memicu kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi terus di atas 2%.
Risalah FOMC The Fed menunjukkan kekhawatiran inflasi akibat perang Iran, memicu kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi terus di atas 2%.
Peluang penurunan suku bunga The Fed pada 2026 kecil akibat ketidakpastian global dan inflasi, meski sebelumnya ada harapan pemangkasan.
The Fed mempertahankan suku bunga 3,5%-3,75% pada Januari 2026, didorong oleh stabilitas ekonomi dan pasar tenaga kerja, meski inflasi masih tinggi.
Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 4,75% untuk menjaga stabilitas rupiah. Meski menguat, rupiah diprediksi melemah hingga Rp17.000 per dolar AS pada akhir 2026.
IHSG diperkirakan akan bergerak terkonsolidasi sekitar level 9.000 pada pekan depan, dengan tiga saham menjadi pilihan seperti JPFA, BBRI, dan AADI
Presiden Fed Kansas City, Jeff Schmid, menyarankan suku bunga AS tetap ketat untuk mengendalikan inflasi, meski pasar tenaga kerja mulai mendingin.
Presiden Fed New York, John Williams, menilai suku bunga saat ini tepat untuk menstabilkan pasar tenaga kerja dan mengembalikan inflasi ke target 2%.
Menkeu AS Scott Bessent dorong The Fed pangkas suku bunga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, meski risiko inflasi meningkat.
Saham pasar negara berkembang menguat awal 2026, didorong oleh saham berbasis AI dan peran Asia dalam AI, mencapai level tertinggi sejak 2021.
Menkeu AS Scott Bessent mempertimbangkan peninjauan ulang target inflasi The Fed 2% setelah inflasi terkendali, dengan opsi rentang target 1,5%-2,5%.