Risalah FOMC The Fed: Kenaikan suku bunga bisa terjadi jika inflasi tetap tinggi
Risalah FOMC The Fed menunjukkan kekhawatiran inflasi akibat perang Iran, memicu kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi terus di atas 2%.
Risalah FOMC The Fed menunjukkan kekhawatiran inflasi akibat perang Iran, memicu kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi terus di atas 2%.
Kevin Warsh, calon pemimpin The Fed, berencana menurunkan suku bunga jangka pendek dan mengurangi neraca, yang dapat memengaruhi pasar obligasi Indonesia.
Indeks Bisnis-27 melemah akibat sentimen negatif MSCI, dengan saham INCO dan BBRI turun.
Mahkamah Agung AS membatalkan tarif Trump, memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pelemahan dolar, sedangkan pasar saham bergerak moderat.
Outlook negatif Moody’s untuk Indonesia menekan minat IPO dan rights issue, meningkatkan risiko pasar modal dan biaya pendanaan. IHSG sulit kembali ke level 9.000.
Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell, memicu spekulasi pasar keuangan. Warsh dikenal “hawkish” dan kritis terhadap kebijakan fiskal AS.
Bursa saham AS di Wall Street melemah akibat kenaikan yield obligasi dan data manufaktur. Investor menanti keputusan suku bunga The Fed pekan depan.
Modal asing keluar bersih Rp2,71 triliun dari pasar keuangan RI pada 22-25 Sep 2025, meski saham diburu dengan masuk bersih Rp4,51 triliun. Risiko investasi meningkat.
Harga emas diproyeksikan bullish jelang pengumuman suku bunga The Fed, didorong ekspektasi pemotongan suku bunga dan pelemahan dolar AS.
Dolar AS menguat tipis di tengah kekhawatiran politisasi The Fed oleh Trump, yang mengancam independensi bank sentral dan memicu ketidakpastian pasar.