Tekanan global belum surut, IHSG berpotensi rebound
IHSG pekan ini berpotensi rebound jika bertahan di atas 6.950, meski ketegangan Iran-AS dan reformasi pasar modal mempengaruhi arus dana asing.
IHSG pekan ini berpotensi rebound jika bertahan di atas 6.950, meski ketegangan Iran-AS dan reformasi pasar modal mempengaruhi arus dana asing.
Pasar modal Indonesia menghadapi tantangan transparansi dan rawan pencucian uang. BEI dan OJK didesak berbenah untuk mengembalikan kepercayaan investor.
Investor besar seperti T Rowe Price dan JP Morgan menjual jutaan lembar saham BBCA di tengah ramainya aksi jual asing dan koreksi harga saham BBCA kemarin.
IHSG melemah setelah naik 2,16%, analis rekomendasikan saham CENT, AGII, GJTL, ASRI, MEDC, dan SMBR untuk dicermati pekan depan.
IHSG menguat 0,13% ke 8.936,75 didorong saham BBCA, DSSA, dan AMMN. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen defisit APBN dan peningkatan cadangan devisa.
IHSG awal 2026 mencapai rekor baru 8.859, didorong saham blue chips BYAN, DCII, AMMN, dan ASII. January Effect dan data ekonomi positif mendukung penguatan.
Eastspring Indonesia fokus alokasi aset pada sektor yang diuntungkan kebijakan pemerintah untuk strategi reksa dana saham 2026.
IHSG melemah 0,83% pada 22-24 Desember 2025, namun saham big caps seperti TLKM dan INCO menahan penurunan dengan kontribusi signifikan.
IHSG terkoreksi 0,55% ke 8.537 jelang Natal 2025. Likuiditas tipis dan profit taking akhir tahun mempengaruhi, meski Muamalat.co.id buy asing signifikan.
OJK optimis tren IPO dan rights issue akan meningkat pada 2026 didukung ekonomi stabil dan likuiditas membaik, dengan target dana pasar modal melebihi Rp220 triliun.